Warung Cak Muk Mojokerto : Memadukan konsep kaki lima dengan retoran

Warung Cak Muk Mojokerto Memadukan konsep kaki lima dengan retoran : Pedagang dipinggir jalan sering disebut sebagai pedagan kaki lima atau biasa disebut PKL. Pedagang kaki lima banyak di jumpai di berbagai kota di Indonesia. Berbagai jenis orang yang berdagang di pinggir jalan, salah satunya berdagang makanan atau warung makan. Salah satu ciri khas warung makan pinggir jalan atau PKL adalah harga yang murah, dibandingkan dengan rumah makan modern atau restoran.  Selain warung makan kaki lima lebih murah dibandingkan dengan restoran, hal yang cukup mencolok adalah kebersihan yang kurang terjadi, sempitnya tempat makan, terbatasnya parkir kendaraan, serta suasana yang panas dan pengap.

Hal tersebut berbeda dengan restoran yang rata-rata makanannya memiliki harga yang lebih mahal atau jauh lebih mahal dibandingkan makanan di PKL. Selain itu memang makan di restoran lebih nyaman dibandingkan dengan makan di warung pinggir jalan, karena biasanya menggunakan AC atau miniman menggunakan kipas biar tidak panas dan pengap. Kemudian kondisi parkir yang memadai, kadang ditambah dengan fasilitas mushola.

Warung Cak Muk Mojokerto : Memadukan konsep kaki lima dengan retoran

Warung Cak Muk menggunakan konsep restoran


Nah, kondisi warung makan kaki lima yang sedemikian ternyata mampu dibaca oleh Bapak Abdul Mukti atau yang lebih dikenal dengan Cak Muk, yaitu salah satu pengusaha kuliner di Mojokerto.

Berdasarkan informasi yang dihimpun sisidesa.com, bahwa Cak Muk memang merintis bisnis kulinernya berangkat dari warung makan kaki lima. Dengan menu utama nasi dengan lauk ayam, bebek, telur, dan sebagainya yang dimakan dengan menggunakan lalapan dan sambal. Penulis sendiri sering berkunjung ke WCM atau Warung Cak Muk sejak yang sebelumnya dipinggir jalan hingga saat ini yang berbentuk restoran. Harga yang ditawarkan jelas merakyat, seperti halnya warung makan kaki lima lainnya.

Kondisi pedagang makanan kaki lima seperti yang telah dijelaskan diatas menjadi sorotan dalam artikel ini. Entah hal ini disadari atau tidak, bahwa Warung Cak Muk telah memadukan konsep bisnis kuliner kaki lima dengan konsep restoran. Dalam hal ini bukan berarti warung penyetan-nya berubah menjadi restoran, tapi justru memadukan warung kaki lima dengan suasana restoran.

Mengapa dikatakan suasana warungnya seperti di restoran? Memang kondisinya tidak seperti warung kaki lima. Warung Cak Muk menggunakan tempat makan yang menarik, seperti halnya rumah makan lesehan. Lokasinya bukan di tepi jalan seperti PKL pada umumnya, tapi memang menggunakan rumah atau gedung untuk dijadikan rumah makan. Selain itu kondisi parkir juga lumayan memadai, namun untuk mushola saya belum pernah mengetahui karena saya tidak pernah sholat di warungnya Cak Muk.

Suasana yang tidak berdesakan dan tidak panas (karena waktu saya kesana tidak panas) juga menjadi pembeda dengan warung makan kaki lima. Dan yang membuat saya tertarik adalah pengelolahan di Warung Cak Muk. Seperti halnya restoran, WCM mempekerjakan karyawan di masing-masing warungnya. Pembayaran dengan menggunakan kasir dan diberikan nota pembayaran, karyawan menggunakan seragam denga pembagian tugas yang jelas. Hal ini kontras dengan warung makan kaki lima pada umumnya, yang menggunakan pengelolahan “apa adanya” yang tidak memperhatikan peampilan, kebersihan, pembayaran yang masih menggunakan cara lama.


Warung Cak Muk membidik penggemar kuliner kaki lima


Restoran yang umumnya didatangi oleh masyarakat “kelas atas” karena memang kemampuan keuangan mereka cocok dengan harga menu di restoran. Berbeda dengan Warung Cak Muk, meski secara fasilitas dan pengelolahan warungnya mirip dengan restoran tapi konsumen yang dibidik adalah penggemar kuliner kaki lima dengan harga yang cukup murah dibandingkan dengan restoran. Hal ini disengaja atau tidak, memang sesuai dengan Warung Cak Muk yang dirintis untuk kalangan menengah ke bawah.

Cara Cak Muk berinteraksi dengan fans-nya juga cukup sederhana misalnya ngobrol dengan pelanggan, berinteraksi dengan media facebook, serta turut aktif dalam komunitas kuliner Mojokerto.

Comments

Anonymous said…
Visitor Rating: 5 Stars
Anonymous said…
Visitor Rating: 5 Stars