Inilah kekeliruan dalam memahami bullying yang harus dihindari

Kekeliruan dalam memahami bullying : Ada banyak kesalahpahaman tentang bullying. Berpikir bahwa bullying adalah suatu hal yang normal pada masa anak-anak dan korban bullying harus bersabar mungkin adalah kesalahpahaman terbesar tentang bullying. Cara berpikir semacam ini dapat memiliki konsekuensi serius bagi korban dan pelaku bullyig. Perilaku bullying tidak dapat di tolerir dan membiarkan pelaku bullying untuk terus membully orang lain bisa meningkatkan perilaku bullying, serta mungkin bisa membuat pelaku bullying akan terus-terusan melakukannya hingga masa dewasa. Korban bullying dapat menjadi rendah diri, depresi, dan memiliki konsep diri negatif.

Kekeliruan dalam memahami bullying


Kesalahan dalam memandang bullying lainnya adalah bahwa pelaku bullying itu rendah diri. Faktanya Banyak pelaku bullying yang sangat percaya diri dan cukup populer dalam pergaulannya. Pelaku bullying bukanlah anak yang tidak percaya diri yang mencoba mambuat masalah seperti pandangan orang pada umumnya. Bullying sebenarnya dilakukan untuk mendominasi yang selainnya dan menunjukan bahwa pelaku bullying lah yang berkuasa. Anak-anak yang melakukan bullying sering menjalin hubungan dengan teman-teman mereka dan menggunakan bullying sebagai cara untuk menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Anak-anak yang memiliki teman dan ingin terlihat “dominan” akan melakukan bully terhadap yang selainnya sebagai cara untuk menunjukan bahwa dia orang yang hebat meski dengan cara yang salah.


Banyak juga orang yang salah dalam memandang bullying, bahwa bullying hanya terjadi pada sekolah masyarakat menengah bawah. Tapi pada faktanya banyak juga kasus bullying yang terjadi pada masyarakat kelas atas.  Bullying dapat terjadi tidak dimanapun, tidak tergantung faktor kelas sosial ekonomi. Banyak juga sekolah “kelas atas” yang memiliki masalah bullying, karena anak-anak disana merasa lebih baik dari pada yang lain dan mencoba menunjukan seberapa “kekuatan” yang mereka miliki dibandingkan dengan anak-anak yang dianggap lebih lemah.

Kesalahan dalam memandang bullying bahwa bullying terjadi anak laki-laki juga hal yang tidak benar. Anak laki-laki melakukan bullying mungkin bisa lebih parah dari anak perempuan, namun anak perempuan juga bisa melakukan bullying. Bullying pada anak laki-laki sering dilakukan secara fisik atau bullying fisik, dan anak-anak perempuan cenderung melakukan bullying secara emosional dengan mengatakan dan menyebarkan hal-hal negatif untuk mempermalukan orang lain. Namun kedua jenis bullying tersebut bisa memiliki efek buruk pada korban bullying dan menimbulkan masalah harga diri dan merasa tidak aman dalam hidupnya.

Bullying sering terjadi di sekolah lanjutan misalnya tingkatan SMP ataupun SMA merupakan pemahaman  yang tidak benar. Banyak penelitian yang menunjukan bahwa perilaku bullying terjadi pada semua usia, tapi usia yang paling rawan adalah di sekolah menengah pertama (SMP). Anak-anak usia 9 hingga 13 tahun adalah usia yang paling rawan terhadap bullying. Anak-anak pada usia ini tergolong masih baru dalam menghapi stress dan tekanan di sekolah, serta  dalam proses penyesuaian diri. Sehingga bullying menjadi cara umum mengatasi masalah tersebut.

Comments

Anonymous said…
Visitor Rating: 5 Stars