Belajar dari Abraham Lincoln, Tokoh yang Menginspirasi Dunia

Abraham Lincoln

Belajar dari Abraham Lincoln, Tokoh yang Menginspirasi Dunia

“Ia lahir dalam kemiskinan dan ketidakjelasan, hatinya dibebani kepedihan, ditimpa oleh kritik dan kemalangan. Ia pantang menyerah sampai dirinya dapat menyelamatkan negara yang dicintainya.”

Memang siapa tidak tahu presiden amerika yang ke 16 ini, Abraham Lincoln. Kisah hidupnya selama menjadi presiden dan juga kehidupannya sejak kecil banyak dibahas oleh orang-orang didunia. Putranya yang bernama Willie telah meninggal, dan sepuluh bulan kemudian pengawalnya juga meninggal, dan itu menyisakan kesedihan yang dalam kepada anak pengawalnya, dan Abraham Lincoln pun menulis surat kepada anak pengawalnya tersebut. Sebelum Willie anak kedua Lincoln yang meninggal pada usia 11 tahun, anak pertama Lincoln yang bernama Eddie juga meninggal pada usia 3 tahun. Sehingga Lincoln pun sudah mengerti dan tahu bagaimana rasanya kehilangan.


Lincoln mengahdapi berbagai pemikiran yang menguras otaknya, selain mengurus anaknya Willie, Lincoln pun memikirkan sesuatu yang lebih besar, yakni perang sipil di negaranya. Pada 4 tahun 1 bulan Abraham Lincoln semakin banyak mengalami cobaan pada masa kepemimpinannya, Lincoln mencoba untuk berusaha menang di setiap perangnya, namun ketika mengalami kekalahan, dia juga merasa sedih.

Lincoln merupakan seseorang yang memiliki rasa humor namun juga memiliki belas kasih. Lincoln memiliki depresi mendalam dalam hidupnya, namun dapat kembali bangkit lagi. Lincoln menceritakan gejala-gejala depresi kepada mantan mitra hukumnya yakni William Hendon setelah Lincoln putus dengan tunangannya Mary Todd, Lincoln merasa bersalah  karena telah ingkar janji dan adanya potensi pernikahan yang buruk karena tidak ada cinta, “sekarang ini saya adalah orang yang paling sedih di diantara  orang-orang hidup.  Jika perasaan saya dibagikan merata keseluruh manusia, tak akan ada wajah ceria di muka bumi ini. Entahlah apakah saya akan membaik kembali; rasanya saya tidak akan membaik lagi. Tidakkah mungkin tetap seperti ini, saya harus mati atau menjadi lebih baik”.


McCain, J., & Salter Mark. (2009). Karakter-karakter yang Menggugah Dunia:Character is Destiny. Gramedia:Jakarta.

Comments

Anonymous said…
Visitor Rating: 5 Stars
Anonymous said…
Visitor Rating: 5 Stars