Ada Pengaruh Batik Pada Perkembangan Industri Fashion Jepang ?

Pengaruh Batik Pada Perkembangan Industri Fashion Jepang : Di Jepang terdapat acara yang menampilkan sekitar 100 replika pakaian tradisional wanita. Pakaian yang ditampilkan yaitu berbagai Kimono yang ada di jaman Kofun hingga jaman Edo. Acara tersebut diselenggarakan di Museum Fashion Kobe. Dengan ditampilkan berbagai fashion lintas jaman, maka pengunjung akan dibawa menyelami masa lalu jepang.

Ada Pengaruh Batik Pada Perkembangan Industri Fashion Jepang ?


Pengunjung akan diajak melihat Jepan di masa lalu. Dengan menampilkan pakaian dari jaman Kofun yaitu sekitar tahun 250 M hingga 538 M, hingga berbagai fashion kuno di jaman Edo sekitar tahun 1603 M hingga 1867 M. Pengunjung pameran tersebut akan dimanjakan dengan berbagai gaya pakaian Jepang dari jaman dulu hingga perkembangan dari waktu ke waktu.

Beberapa lembar pakaian menggunakan desain dari sebelum jaman Muromachi (1336-1573) dan bahkan sebelum Kimono tersebut diciptakan. Seperti replika pada jaman Kofun yang terdiri dari jubah atas dengan pola daun yang menawan. Hal ini menunjukan pengaruh kuat dari Asia Tenggara terhadap budaya Jepang, dan sangat berbeda dengan Kimono.

Beberapa pakaian menggunakan desain khas sebelum jaman Muromachi (1336 M-1573M), dan itu sudah ada bahkan sebelum Kimono diciptakan. Seperti pakaian pada jaman Kofun yang terdiri dari jubah atas dengan pola daun. Ciri khas tersebut ternyata diindikasi kuat ada pengaruh dari Asia Tenggara terhadap budaya Jepang, dan sangat berbeda dengan Kimono. Sehingga kalau dilihat dari gambar yang ditampilkan dalam artikel ini, pakaian tersebut hampir mirip dengan pakaian Batik yang ada di Indonesia.

Dari pameran tersebut sebenarnya banyak hal yang bisa dipelajari. Misalnya pakaian istana jaman Nara yang memiliki siluet mirip dengan pakaian jaman Kofun, tapi memiliki dasar yang dipengaruhi oleh Dinasti Tang di China (A.D. 618-906). Pada pakaian tersebut menunjukan pola dan warna kuno yang berbeda dengan yang selainnya, dimana dari pembuatannya dengan bahan sisa tekstil dari Shoho-in yang merupakan rumah harta karun dari Kuil Todaiji di Kara. Tekstil yang asli dibuat menggunakan metode yang berbeda pula, dengan teknik yang diduga dari India.

Hal lain yang tak kalah menarik dalam pameran tersebut adalah dijelaskan bagaimana semua replikas tersebut dibuat. Semua itu ternyata dibuat pada jaman Showa (1926 M – 1989 M), dan berdasarkan penelitan sejarah menunjukan bahwa pengrajin Kyoto memang terkenal dengan kemampuan mereka dalam kerajinan tradisional, yang termasuk membuat seni lukis dan gambar.

Pameran tersebut diselenggarakan untuk promosi bisnis lokal yang memproduksi tenun dan tekstil khas Jepang.

Comments