Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental dan Mental yang Sehat

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental dan Mental yang Sehat - Pada sejarahnya, kesehatan mental terbagi menajdi dua periode, yakni pada periode perkembangan kesehatan mental zaman pra-ilmiah dan periode perkembangan kesehatan mental zaman ilmiah.

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental dan Mental yang Sehat

Pada zaman kesehatan pra ilmiah dapat dipelajari mulai zaman purba hingga zaman renaissance. Pada zaman purba, penyakit fisik disamakan dengan penyakit mental, sehingga jika ada seorang sakit kepala, maka akan sama dengan penyakit gila yang disebabkan mantra-mantra dari orang lain yang dianggap musuh. Adapun faktor mental yang biasanya terjadi pada manusia purba dikarenakan oleh beberapa sebab, diantaranya adalah masalah kebutuhan hidup manusia purba (kebutuhan makanan) dengan hidup nomaden dan kekhawatiran perasaan saat melakukan perburuan atau menghadapi hewan buas atau predator. Pada zaman purba, manusia purba yang mengalami sakit fisik atau psikis ditolong dengan psikolog atau psikeater zaman tersebut. Para psikolog atau psikeater pada zaman purba adalah dukun-dukun yang biasanya para cendekiawan yang ada dalam kelompok. Jika ada penyakit mental atau fisik yang diderita oleh manusia purba terus berlanjut, maka dukun tidak segan-segan untuk membinasakannya.

Pada peradaban-peradaban awal yakni termasuk pada Babilonia dan Ninive (Mesopotamia); Mesir; Yahudi; Persia; Cina dan Timur Jauh; Afrika; Yunani: Phutagoras (500M), Hippokrates (460-377 SM), Plato (429-347 SM), Aristoteles (384-322 SM), Iskandar Agung (356-322 SM); Roma: Aesclepiades (124-40 SM), Aretaeus (antara abad 1 dan 2 M), Galenus (130-200 M), Cicero (106-43 SM).

Pada peradaban awal, orang-orang yang gangguan secara mental mulai menjadi hal yang wajar, orang-orang yang mengalami gangguan mental pada saat itu dirawat oleh tukang-tukang sihir. Pada zaman Babilonia dan Ninive, seorang tang terkena gangguan mental dihubungkan dengan setan dan penyembuhannya dilakukan dengan ritual-ritual atau upacara-upacara agama atau magis, agar setan yang ada dalam tubuh orang yang terkena gangguan mental dapat keluar. Dalam peradaban Mesir, kesehatan mental dihubungkan dengan hal-hal yang magis, meskipun peradaban dalam hal ilmu kesehatan sudah maju dan rasional dalam beberapa hal.

Pada peradaban Yahudi, orang yang terkena gangguan mental, dihubungkan dengan hukuman dari Tuhan, dan cara yang paling tepat adalah dengan melakukan taubat. Persia, kesehatan mental berhubungan dengan disebabkan oleh setan-setan, sehingga cara penyembuhan orang yang terkena gangguan mental dengan cara-cara yang magis dan keagamaan. Pada daerah China, India dan Timur Jauh, kesehatan mental seseorang ditinjau dari ketidakseimbangan alamiah antara Yin dan Yang . di India, kesehatan mental dikaitkan dengan dewa-dewa Hindu, yakni Vishnu (kekuatan baik) dan Shiva (kekuatan jahat). Di Afrika, kesehatan mental pada seseorang yang terkena gangguan mental dikaitkan dengan nenek moyang yang marah, roh-roh jahat dan musuh.

Abad Pertengahan (Abad Gelap) : Dancing mania, Ilmu Sihir (Kepercayaan terhadap Demonologi), Perawatan Pasie Sakit Mental di Lembaga; Zaman Renaissance: Switzerland, Jerman, Inggris, Prancis. Pada abad ini, exorcisme dianggap penting, (Hidayat & Herdi, 2013).

Kesehatan mental dan proses penyembuhan seorang yang sakit menggunakan mantra-mantra. Meskipun sudah dianggap modern pada ilmu kedokterannya, mantra-mantra dan jimat ini dianggap salah satu teknik yang rasional dan sah dalam ilmu kedokteran. Adapun beberapa peristiwa yang terjadi di abad pertengahan adalah dancing mania. Dancing mania atau kegilaan massa atau disebut choreomania (tarian liar) terjadi di Eropa dalam periode abad X dan XV, dimana sejumlah besar orang menari secara liar dan tak terkendali sampai kehabisan tenaga (Hidayat & Herdi, 2013).

Pada abad ke-15 sampai ke-18, gangguan mental masih dianggap dengan kerasukan setan, dengan cara penyembuhannya adalah menghukum atau menyiknya seseorang yang terkena gangguan mental. Pada abad ini juga berkembang adnaya kepercayaan hadirnya tukang-tukang sihir yang membuat sihir keada orang-orang. Sehingga, pada saat itu, yang terduga sebagai tukang-tukang sihir sangat dicari, dan berhenti secara resmi di Amerika pada tahun 1700 (Hidayat & Herdi, 2013).

Perkembangan Kesehatan Mental Zaman Ilmiah : Abad XVII-Abad XX (Prancis, Inggris, Jerman, Italia, Amerika Latin, Amerika Serikat; Psikiatri, Gangguan Mental Tidak Dianggap sebagai Orang Sakit; Gangguan Mental Dianggap Tidak Sakit; Melawan Diskriminasi terhadap Gangguan Mental.

Pada zaman Ilmiah sekitar abad ke-18 yang dilihat sebagai zaman rasio, yakni perhatian dipusatkan pada pada klasifikasi dan sistem (Hidayat & Herdi, 2013). Kemajuan dalam bidang ilmu kedokteran terlihat sangat maju, terutama dalam bidang pengobatan.

Sehingga dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa dari zaman purba hingga zaman di era serba canggih dan modern ini, kesehatan masih tetap ada dan terjadi dan dialami sepanjang masa. Gangguan kesehatan mental yang dulunya dikenal identik dengan guna-guna, toh halus, gangguan setan dan sebagainya, kini lebih mendekati dan dapat dipelajari serta disembuhkan dengan pendekatan ilmiah dan proses-proses yang rasional dan lebih manusiawi.

Kesehatan sendiri menurut Undang-Undang no. 09 tahun 1960 mengenai pokok-pokok kesehatan dinyatakan bahwa “ kesehatan ialah yang meliputi kesehatan badan, rohani (mental), dan sosial, dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan”. Menurut WHO (World Health Organization) atau Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa kesehatan adalah “health is state of physical mental and socai wellbeing and not merely the absence of disease or infirmity”. Serta Undang-Undang kesehatan mental nomor 3 tahun 1966 bab 1 pasal 1 disebutkan bahwa “kesehatan mental adalah keadaan mental yang sehat menurut ilmu kedokteran...” pada paham ilmu kedokteran saat ini, yang dimaksud adalah kondisi fisik, kognitif dan emosional seseorang yang selaras dengan kondisi orang-orang pada umumnya.

Jadi, dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam memaknai kesehatan mental harus secara utuh dan mendalam. Kesehatan mental dapat diobservasi melalui perilaku yang tampak pada seseorang. Kesehatan mental secara umum meliputi aspek jasmani, emosi dan sosial. Orang yang sehat memiliki tingkat kesejahteraan dalam hidupnya berupa tiga aspek tersebut. Sehingga, orang yang mampu beradaptasi/menyesuaikan dirinya (jasmani dan sosioemosi) dengan lingkungannya (sosial) dapat dikatakan orang yang memiliki kepribadian dan kesehatan mental yang baik dan sehat.

Sumber : Hidayat, D.R & Herdi. (2013). Bimbingan Konseling : Kesehatan Mental di Sekolah. Bandung:RosdaKarya