Mengapa perlu bekerja dengan kreatifitas atau harus kreatif ?

Bekerja dengan kreatifitas - Setelah Perang Dunia II, konsep produksi fordisme yang berdasarkan spesialisasi dan standarisasi untuk mencapai peningkatan produktivitas dan keuntungan berlaku di industrinya. Menurut informasi dari wikipedia bahwa Fordisme diambil dari nama Henry Ford yaitu pendiri Ford Motor Company.

kenapa perlu bekerja dengan kreatifitas atau harus kreatif ?


Keuntungan dari konsep produksi seperti itu bisa menaikan upah pekerja, yang biasanya dihabiskan sebagian upahnya untuk konsumsi pribadi. Kemudian dengan seperti itu bisa mewujudkan kondisi kerja dan menjamin hak­hak publik dan individu tertentu, seperti kesehatan, pendidikan dan Infrastruktur, sehingga akan memperbaiki tingkat kesenjangan sosial.

Di sisi lain, Pekerjaan menjadi penghubung warga negara mendapatkan hak-¬hak kewarganegaraannya. Pada Kelas menengah memiliki stabilitas, misalnya setelah menyelesaikan studi mereka bekerja untuk pada perusahaan di mana mereka pasti akan kerja disana sampai pensiun. Selama bertahun-tahun mereka bahkan mampu meningkatkan taraf sosialnya jika mereka meningkatkan kualitas dan profesionalisme kerja mereka, dengan begitu bisa dipastikan bahwa anak¬-anak mereka nanti akan memiliki kehidupan yang lebih baik. Kemudian karena pengondisian lingkungan kerja, mereka akan terbangun Identitas individual sekitar tempat kerja.

Namun, konsep semacam itu justru membawanya pada krisis dari tahun 80­an, serta membawa dampak berkerja secara fulltime dan justru terjadi disintegrasi secara bertahap pada Kesejahteraan, serta ketidaknyamanan kerja terus meningkat dari tahun ke tahun.

Meskipun cukup banyak elemen Fordisme bertahan sampai hari ini, beberapa sosiolog seperti Claus Offe, André Gorz atau Jeremy Riffkin menganalisis efek konsep tersebut terletak pada pembangunan identitas.

Kesimpulannya jelas bahwa pekerjaan tidak lagi menjadi penentu kehidupan sosial, dan Tenaga Kerja tidak akan terus menjadi pekerja dan tidak akan mau kembali menjadi pekerja. (Gorz, 1998)

Tapi faktanya, bekerja secara terus menerus menjadi alasan sederhana bagi kebanyakan orang karena itu sebagai sumber pendapatan utama mereka. Meskipun pekerjaannya tidak lagi stabil, bahkan tidak nyaman untuk bekerja.
Sepanjang hidupnya, orang akan menempati posisi bahkan bekerja di perusahaan yang berbeda dan bahkan berganti-ganti, hingga masuk waktu pensiun. Kondisi seperti itu tidak memungkinkan untuk membangun identitas berdasarkan sesuatu yang begitu tidak stabil dan rapuh. Apa maka pondasi baru untuk membangun identitas?



Richard Florida memberi kita petunjuk, bahwa munculnya kreativitas sebagai faktor kunci dalam ekonomi dan masyarakat. Perekonomian tidak fokus pada perusahaan tetapi pada individunya: «Orang¬orang menjadi pemeran pada era baru, karena mereka adalah sumber utama kreativitas» (Richard Florida, The Rise of Creative Class, 2002).
Florida memperkenalkan kelas kreatif yang baru muncul, yang menilai pada individualitas, perbedaan dan prestasi, tapi dia menghubungkan berbagai jenis pekerjaan tertentu seperti ilmu pengetahuan, teknik, arsitektur, desain, pendidikan, seni, musik, hiburan dan kelompok yang lebih luas dari profesional kreatif dalam dunia bisnis, keuangan. Kemudian menggambarkan dengan garis yang membedakan dari profesi lain.

Namun, inti dari identitas pribadi tidak di tempat kerja atau pekerjaan yang dilakukan. Melainkan Identitas kelas kreatif tepatnya didasarkan pada kreativitas.

Baca artikel selanjutnya : Self-Employed bekerja untuk siapa?

Yang mampu menggerakkan orang adalah penyesuaian kondisi personal di mana mereka benar¬-benar menonjol, di mana mereka bisa menikmati serta totalitas. Sedangkan Kreativitas sendiri apakah bertentangan dengan setiap taraf sosial atau pekerjaan? Dalam artian kalau menuruti kreatifitas tidak akan bisa mendapatkan penghasilan.

Ketika orang yang menjauhi atau keluar dari pekerjaannya karena memang sudah tidak nyaman dan tidak aman dengan tempat kerjanya, hal itu bisa memang tidak sesuai dengan kondisi orang tersebut secara individu. Sehingga dari pandangan tersebut bisa dipahami pendekatan baru dalam manajemen bisnis dan pemasaran untuk memasukan aspek kreatifitas individu dalam lingkungan kerjanya.

Baca artikel selanjutnya : Self-Employed bekerja untuk siapa?

Comments