Keren, beginilah perjalanan industri film Jepang

Ekonomi kreatif sepertinya mulai diseriusi oleh pemerintah, seperti halnya dalam dunia perfilman. Mungkin Indonesia saat ini dijajah dengan hadirya film asing atau tayangan dari luar negeri. Seperti halnya film drama Jepang yang banyak digemari remaja atau perempuan Indonesia. Film animasi Jepang seperti Doraemon, Pokemon, Naruto, dll. Bahkan sampai film pornonya pun beredar luas di Indonesia. Namun kemajuan industri film Jepang juga bukan tiba-tiba besar, tapi juga butuh proses panjang. Bagaimana perjalanan industri film Jepang? Inilah informasinya.

Keren, beginilah perjalanan industri film Jepang


1. Runtuhnya Industri film Jepang


Tahun 1990 mungkin menjadi sejarah dalam industri film di Jepang. Menurut penulis Japan Times, dia pernah menjadi koresponden majalah bisnis perfilman Inggris dan hampir semua sumber Industri film yang bertemu dengannya mengalami kemunduran. Jumlah film Jepang yang dirilis jatuh dari 547 film pada tahun 1960 menjadi 239 pada tahun 1990. Penurunan tersebut pastinya diikuti dengan turunnya pendapatan industri film di Jepang. Dua dari enam produsen film dari tahun 1960 "Shintoho and Daiei Film Co" mengalami bangkrut, sementara yang lain terpaksa memecat karyawan untuk menghemat biaya produksi. "Toho" sebagai produsen film yang paling besar pun akhirnya berhenti membuat film pada awal tahun 1990-an, kecuali film "Godzilla" the series.

Pada dekade terakhir, jumlah film yang yang dirilis dari produsen film Jepang meningkat dari 287 pada tahun 2003 hingga 591 pada tahun 2013 yang mengungguli jumlah film tahun 1960.

Namun, diantara film yang banyak diproduksi tersebut juga berisi film porno yang jumlahnya meningkat. Selain film porno juga film indie yang mungkin hanya diputar seminggu sekali di Bioskop Tokyo. Meski demikian seorang sutradara Takeshi Kitano pada baru-baru ini pada Tokyo Interational Film festival, mengatakan bahwa Industri film jepang sedang jatuh.

2. Kembalinya film Jepang


Pada perkembangannya film Asing mendominasi pasar lokal Jepang. Pada tahun 2007 film non Jepang menjadi mayoritas di Jepang sekitar 52,3 persen, namun fim Asing turun menjadi 39,4 persen pada tahun 2013. Namun demikian pendapatan film Jepang menurun dari 203 milyar Yen pada tahun 2003 menjadi 194 milyar Yen pada tahun 2013. Itu menandakan meningkatnya jumlah rilis film di pasar tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh, dan film yang banyak belum tentu menghasilkan pendapatan yang besar tergantung kualitas filmnya.

Sementara film indie yang memiliki kapasitas kecil, meski kualitas tapi tidak mendapatkan kesempatan yang sama seperti film-film besar lain. Hal ini menjadi sorotan yaitu yang kaya semakin kaya, demikian yang miskin akan terus miskin. Karena film indie tidak memiliki media untuk menayangkan seperti TV atau media besar, maka film indie tidak bisa maju dan kalah dengan film besar yang memiliki jaringan TV atau perusahaan media besar. Padahal secara kualitas antara film indie bisa dikatakan tidak kalah kualitasnya bahkan bisa lebih baik dari film yang bermodal besar.

3. Segment perempuan dan aktor laki-laki menguasai Box Office Jepang


Selama tahun baru, Golden Week, dan libur sekolah musim panas biasanya menjadi target pemasaran film yaitu pada segment keluarga. Orang tua memahami film yang baik untuk ditonton anak-anaknya seperti film animasi Doraemon, Pokemon, dan film anak-anak lainnya dari Studio Ghibli, meski film tersebut secara demografis untuk pasar yang lebih luas.

Mayoritas pemeran dan karakter film baik animasi atau film riil adalah laki-laki, hingga boy-band yang banyak di idolakan remaja perempuan. Namun sebenarnya film atau tayangan tersebut tidak hanya untuk pasar perempuan, tapi ayah, saudara, atau yang lain dalam lingkup keluarga.

Comments