Revolusi sanitasi lingkungan dari sungai ke wc

Revolusi sanitasi lingkungan dari sungai ke wc


Kalau kita amati sekarang, kita melihat banyak wc/toilet umum di taman, di mall di pom bensin atau SPBU dan lain-lain. Di rumah pun, di tempat kost dengan fasilitas lengkap hotel, semua memiliki kamar mandi dan wc. Dan hampir seluruh rumah di Indonesia juga sudah mempunyai kamar mandi dan wc sendiri. Memang, sekarang kebutuhan akan tempat itu sangat dianjurkan oleh pakar kesehatan dan berguna untuk manusia sendiri.

Kalau kita lihat kebelakang, jaman dahulu, di jaman sebelum kemerdekaan,  kemerdekaan sampai pasca kemerdekaan pun di tiap rumah wrga jarang ada yang mempunyai wc umum dan kamar mandi. Di desa pun, malah mungkin hanya beberapa orang yang memiliki kamar mandi dan wc milik pribadi, itu pun hanya orang “mampu” yang bisa membuatnya.

Sebelum ada kamar mandi atau pada jaman dahulu, warga desa membuang hajat, mandi, mencuci baju, memandikan hewan ternak dan melakukan aktivitas lainnya yaitu di sungai. Setelah jaman lebih modern, barulah orang-orang membuat suatu tempat yang namanya “kakus atau jamban” yaitu tempat untuk membuang hajat yang dindingan terbuat dari bambu yang dianyam dan tidak ada atapnya dan didalamnya terdapat lubang untuk membuang hajat. Jadi ketika ingin membuang hajad, harus menimba air dulu di sumur menggunakan timba/ember air. Dan membawa air ke dalam kakus atau jamban.

Sekarang ada yang lebih canggih lagi, yaitu sudah ada tempat hajad yang lebih modern, sampai ke closed/tempat duduk. Namun, sayangnya kalau kita lihat di daerah sub urban/wilayah pinggiran kota-kota besar, masih banyak orang yang membuang hajat di sungai bahkan mandi disungai. Hal ini berpengaruh pada kesehatan tentunya, dan juga pencemarah air sungai. Semoga warga lebih sadar akan kesehatan dan kebersihan dirinya.


EmoticonEmoticon