Jaringan internet di pelosok desa

Jaringan internet di pelosok desa


Internet di pelosok desa  - Saya mengenal internet sejak merantau di kota untuk melanjutkan sekolah. Setelah lulus SMP saya memutuskan untuk melanjutkan study di kota. Sebagai seorang dari desa pedalaman, saya tidak mengenal secara detail apa itu komputer, handphone, apalagi internet.  Saya dulu mengenal internet pun di warung internet (warnet), itupun karena tuntutan tugas sekolah. Dari situ saya belajar untuk menggunakan komputer dan internet, pastinya dibantu teman-teman saya yang sejak kecil hidup dikota.

Pengalaman penggunaan internet tidak berhenti sampai disitu, sampai akhirnya saya berpindah kota ke Surabaya untuk study sampai akhirnya bekerja. Di Surabaya saya sudah tidak menggunakan warnet lagi, saya menggunakan laptop dan modem untuk kebutuhan saya sehari-hari. Dan terus berkembang sampai adanya gadget handphone dengan berbagai fasilitas internet seperti social media dan lain sebagainya yang akhirnya memudahkan saya untuk bisa mengakses internet.

Penggunaan internet terbesar saya adalah untuk mencari informasi serta untuk sharing atau berdiskusi dengan teman-teman melalui social media. Terutama hal-hal yang berhubungan dengan tugas kuliah dengan pengiriman email, atau juga untuk mencari referensi seperti ebook atau juga jurnal-jurnal ilmiah yang semakin mudah saya dapatkan.

Dari sini saya benar-benar merasakan penggunakan internet yang sangat memudahkan aktifitas saya. Sampai saya sering mengatakan kepada teman-teman saya bahwa dengan adanya internet kita bisa belajar atau juga bekerja dimana pun dan kapanpun, “Learn and work anywhere, anytime”.

“Learn and work anywhere, anytime” saya terapkan, termasuk saya sering dirumah orang tua saya untuk mengerjakan tanggungan saya, misalnya untuk mengerjakan tugas, membuat rencana sampai pemecahan masalah taktis, atau juga hanya sekedar tulis menulis. Dan dari sini baru muncul masalah yang besar bagi saya.

Masalah besarnya adalah rumah orang tua saya (tempat saya tinggal sejak kecil sampai SMP) itu adalah wilayah pelosok. Bahkan sering teman-teman saya yang datang bermain ke rumah itu mengatakan bahwa lokasinya benar-benar sulit dijangkau. Dan posisinya berada tepat dipinggir hutan jati di kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Sebuah wilayah pinggiran, perbatasan Kabupaten Mojokerto dengan Gresik dan Lamongan.

Ketika itu saya benar-benar resah, karena disana saya tidak bisa mengakses internet sama sekali. Jangankan istilah internet lemot, sinyal operator seluler yang saya gunakan dulu pun tidak ada sinyal sama sekali. Berbanding terbalik dengan penggunaan internet di kota, semua operator selular bisa digunakan, sinyal baik 3G atau GPRS bisa digunakan di kota. Kalau didesa / rumah saya jangan sekali-kali untuk mencari sinyal  untuk akses 3G atay GPRS, yang terpenting ada sinyal sudah sangat bersyukur. Muncul satu stip sinyal adalah anugerah yang luar biasa bagi saya ketika berada dirumah.

Karena masalah tersebut “Learn and work anywhere, anytime” yang saya lakukan tidak berlaku karena terhalang minimnya sinyal. Ketika saya di desa benar-benar tidak bisa produktif sama sekali. Banyak waktu saya yang terbuang ketika saya tidak terhubung dengan internet.

Sebenarnya masih ada peluang kalau hanya untuk produktif, yaitu laptop saya masih nyala selama aliran listrik memadai. Saya bisa melakukan aktifitas secara offline, dari situ saya bisa produktif. Namun sebenarnya bukan itu masalahnya, tapi saya perlu terhubung dengan partner (rekan kerja) ataupun dengan teman-teman saya untuk melakukan sharing, diskusi atau pemeriksaan hasil-hasil pekerjaan yang dilakukan secara offline tersebut. Tanpa adanya internet, hasil yang saya kerjakan juga akan percuma karena tidak bisa dikirim dengan email. Ataupun ketika melakukan study, butuh referensi melalui jurnal ilmiah atau membutuhkan data-data penunjang akhirnya sulit juga dilakukan.

Disisi lain saya memerlukan suasana yang benar-benar tenang untuk berpikir jernih, sehingga pulang ke rumah di desa adalah solusi yang saya pilih. Dan hal utama yang perlu saya pecahkan ketika dirumah adalah mengatasi permasalahan akses internet. Meskipun posisi berada di daerah pelosok, namun saya berpikir bagaimana caranya agar saya bisa menggunakan internet seperti saya tinggal dikota.

Saya coba dengan berbagai cara, dan awalnya tidak bisa berhasil begitu saja. Misalnya saya tetap menggunakan operator selular yang saya gunakan seperti di Surabaya (bukan produk dari telkomsel). Saya gunakan antena untuk penguat sinyal modem, syukurlah ada hasilnya yaitu ada 2 strip sinyal. Namun ketika saya koneksikan internet, tidak bisa menjangkau atau mengakses internet. Dari situ saya berpikir bahwa yang selama ini dipromosikan tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan menawarkan bisa diakses dimanapun, selama ada sinyal ternyata hal itu tidak berlaku. Karena saya mencoba secara empiris, bahwa ada sinyal pun saya tidak mengakses internet dari provider tersebut.

Kemudian saya coba tanya ke senior saya yang masih tinggal di daerah sana, namanya Mas Anwar. Dia memberitahukan bahwa selama ini menggunakan telkomsel lancar-lancar saja, tapi kelancaran tersebut dalam konteks penggunaan handphone dan belum dicoba untuk modem. Dan akhirnya saya mencoba untuk menggunakan telkomsel.

Saya coba membeli kartu simpati, karena opini yang beredar adalah kualitas yang paling baik adalah simpati. Dengan uang hanya 5.000 Rupiah akhirnya saya punya kartu perdana simpati saya. Dan ketika otak atik, saya menemukan berbagai layanan paket internet. Karena masih tahap percobaan, sementara saya pilih paket Flash ultima 25ribu dengan kuota 600 MB rinciannya 150MB di sinyal biasa dan 450 di sinyal 3G.

Hasilnya adalah untuk sinyal biasa muncul penuh dan internetnya lancar. Dan untuk 3G awalnya saya agak kecewa karena sinyal HSPA atau UTMS hanya muncul tidak penuh hanya 3 strip saja, hal itu sangat jauh berbeda dengan dikota karena sinyal 3G dikota selalu penuh. Namun saya coba untuk koneksi internet dengan sinyal HSPA/UTMS ( yang katanya sebutanuntuk sinyal 3G ), dan ternyata bisa terhubung dengan Internet. Tidak berhenti disitu saja karena masih tidak percaya akhirnya saya coba gunakan untuk browsing, hasilnya adalah kecepatan browsing sama seperti saya menggunakannya ketika di kota selevel Surabaya. Ketika saya coba buka Youtube.com pun kecepatan sangat cepat, tidak ada bedanya dengan Surabaya.

Karena penggunaan internet saya sangat tinggi, kuota 600 MB tersebut tidak cukup dengan saya. Disisi lain untuk mendapatkan paket kuota internet yang lebih besar di kartu simpati juga lumayan mahal menurut saya. Tapi ada angin segar ketika saya mengguanan internet, ada sms dari operator yang berisi paket internet 60 Ribu dengan kuota 4 GigaByte Per Bulan. Hal itu menurut saya cukup ekonomi dan kuota yang sangat cukup kalau hanya untuk browsing dan akses social media atau sekedar membaca berita. Dan sampai saat ini pun saya tetap menggunakan paket 60ribu/4GB/Bulan, meski sering habis hanya dalam waktu 2 – 3 minggu saja. Tapi saya puas dalam penggunaannya sampai saat ini.

Pengalaman lain yang menurut saya penting tapi tidak tahu ini menarik atau tidak, yaitu ketika saya bisa akses internet dipelosok desa pinggir hutan. Karena kalau sedang ada dirumah, banyak adik-adik SD (salah satunya sepupu saya) minta untuk diajari pelajaran sekolah dan dibantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR).  Sambil iseng saya buka laptop dan saya biarkan mereka untuk menggunakan laptop saya, dan yang sering digunakan oleh mereka adalah nonton video “culo boyo juniol” dan melihat film tendangan dari langit.

Melihat keceriaan mereka, saya tertarik untuk memasang modem dan mengakses internet. Dan saya membuka google image, saya minta mereka request mau melihat binatang apa, tanaman apa, dan lain sebagainya yang itu ada di dalam pelajaran mereka. Dan mereka sungguh kagum ketika melihat berbagai macam binatang yang mungkin selama ini belum pernah dilihatnya.

Sampai suatu ketika adik sepupu saya yang masih SD selalu minta video sepeda trail, karena masih kecil tapi sudah mengendarai trail. Dan dari youtube saya biarkan dia memilih mau video yang mana, dan dia belajar dari situ. Bersama teman-temannya, saya mengajak mereka jalan-jalan, namun bukan jalan-jalan yang sebenarnya. Hanya saya buka google earth melalui browser saya.

Kuriositas mereka sangat tinggi, hal yang mereka tanyakan adalah “Jakarta itu seperti apa mas?”. Saya pun cari dan zoom Jakarta, biar mereka tahu secara riil bukan hanya dari cerita saja. Mereka ingin tahu kutub selatan, eropa, jembatan suramadu, dan lain sebagainya. Meski bukan jalan-jalan yang nyata, namun dengan melihat keceriaan mereka itu sudah cukup menyenangkan bagi saya. Dan semoga mereka kelak mampu untuk menuju tempat-tempat yang mereka tanyakan itu tadi.

Gara-gara Google Earth, terlebih karena senangnya anak-anak tadi, akhirnya mereka membicarakan hal itu ke teman dan orang-orang yang lain. Hal ini sangat awam bagi masyarakat desa, sampai akhirnya datanglah orang di desa saya yang minta tolong untuk mencari keberadaan saudaranya yang berada di Kalimantan tepatnya di Samarinda kalau tidak salah. Ada juga yang minta dicarikan istrinya yang kabur dari rumah.

Karena saya bukan ahli untuk mencari orang hilang dan juga bukan detektif untuk mencari keberadaan orang, dan juga bukan paranormal yang bisa tahu apapun. Saya mengatakan jujur ke mereka, internet saya bukan untuk mencari orang hilang. Namun kalau ingin tahu kondisi Samarinda dan posisinya dimana, dan kota-kota lain di Indonesia saya bisa mencarikan informasinya.

Ketika saya cari gambar-gambar kota samarinda melalui google image, saya kasih tahu posisi dan letaknya melalui google earth. Beliau juga sangat puas, dengan mengatakan “Jowo karo Kalimantan tibakne cidek yo” sambil ketawa lega. Dalam bahasa Indonesia yang berarti “Jawa dan Kalimantan ternyata dekat ya”.

Sampai saat ini hal tersebut masih berjalan ketika saya sedang ada dirumah. Setiap anak-anak kecil datang, saya pinjami mereka laptop dan internet meski mereka belum seberapa paham penggunaannya, namun saya bantu dan awasi juga kalau mereka menggunakannya.

Serta saya diajari teman saya untuk menjadikan internet di laptop saya menjadi wifi, sehingga meski berada dalam pelosok desa. Saya tidak khawatir lagi untuk tidak bisa mengakses internet dengan gadget saya.  Dengan wifi pertama yang ada di desa saya tersebut, saya bisa akses wifi laptop melalui gadget saya. Dari situ saya bisa menggunakan BBM, social media, dan juga aplikasi – aplikasi lain yang berbasis internet dengan mudah semudah ketika saya berada dikota.

Dengan harapan suatu saat saya bisa membantu “adik-adik saya” yang berada dipelosok desa untuk belajar lebih dekat dengan penggunaan internet, serta melihat dunia lebih luas. Dan suatu saat semoga bisa membantu menyediakan internet gratis beserta perangkat komputer untuk mereka.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat.

Terima Kasih.



EmoticonEmoticon